
SEPUTARRIAU.COM Pekanbaru (ANTARA) – PTPN IV PalmCo terus mempercepat peremajaan sawit rakyat (PSR) di Riau sebagai bagian dari dukungan terhadap program biodiesel B50. Program ini mendorong campuran solar dengan 50 persen bahan bakar nabati dari minyak sawit. Fokus utama program ini adalah meningkatkan produktivitas petani sawit.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi perusahaan. Tujuannya adalah memperkuat sektor perkebunan rakyat. Selain itu, program ini mendukung energi terbarukan nasional.
Realisasi PSR di Riau Capai 12.600 Hektare
Hingga akhir 2025, realisasi peremajaan sawit rakyat di Riau mencapai 12.600 hektare. Capaian ini terus meningkat setiap tahun.
Program ini sudah berjalan sejak 2012. Saat itu, PTPN IV menjalankan revitalisasi perkebunan. Kemudian, pada 2019, program PSR mulai diperluas.
Sejak itu, program berjalan lebih terstruktur. Petani juga dilibatkan lebih aktif.
Untuk 2026, target tambahan adalah 4.500 hektare. Lokasinya berada di wilayah Bumi Lancang Kuning.
Jika target tercapai, total peremajaan akan menjadi 17.100 hektare.
“Insya Allah sampai akhir tahun ini bisa mencapai 17.100 hektare. Progresnya sangat baik,” kata Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso.
Ia menyebut petani sangat antusias. Mereka juga aktif mengikuti program ini.
Percepatan Program Melalui Pendampingan Teknis
PTPN IV mempercepat PSR melalui Distrik Petani Mitra. Banyak tahapan dilakukan secara paralel.
Tahap pertama adalah pendataan lahan. Setelah itu dilakukan verifikasi. Tahap terakhir adalah penerbitan rekomendasi teknis.
Rekomtek menjadi syarat utama program PSR.
Bambang menjelaskan bahwa percepatan tidak hanya administratif. Pendampingan lapangan juga dilakukan secara intensif.
Tujuannya agar petani lebih mudah menjalankan proses peremajaan.
Tujuan Utama PSR Riau
Program PSR memiliki tujuan jelas. Salah satunya adalah mengecilkan kesenjangan produktivitas.
Saat ini, produktivitas petani masih rendah. Rata-rata hanya 7–12 ton per hektare per tahun.
Sementara perkebunan besar bisa lebih dari 20 ton.
Perbedaan ini cukup jauh. Karena itu, peremajaan menjadi penting.
Tanaman tua diganti dengan bibit unggul. Bibit ini memiliki produktivitas lebih tinggi.
Produktivitas Petani Meningkat
Hasil program mulai terlihat.
Petani mitra yang ikut revitalisasi mampu mencapai 29,10 ton per hektare per tahun. Angka ini sangat tinggi dibanding kondisi awal.
Sementara itu, petani PSR dengan tanaman menghasilkan (TM-3) mencatat 23,94 ton per hektare per tahun.
Angka ini juga sudah di atas standar PPKS. Standarnya adalah 19 ton per hektare.
Hasil ini menunjukkan dampak positif program. Petani mendapat peningkatan pendapatan.
Dukungan terhadap Program B50
PSR juga mendukung program B50 nasional. Program ini direncanakan berlaku pada 1 Juli 2026.
B50 menggunakan campuran 50 persen biodiesel. Bahan bakunya berasal dari minyak sawit.
Program ini akan mengurangi impor solar. Dampaknya adalah penghematan devisa negara.
Bambang menegaskan bahwa PTPN IV mendukung penuh kebijakan ini.
“Kami ingin berkontribusi dalam meningkatkan produksi CPO nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa petani adalah kunci utama.
Potensi Penghematan Negara
Program B50 diperkirakan memberikan dampak besar. Salah satunya adalah penghematan devisa.
Nilainya bisa mencapai Rp157,28 triliun per tahun.
Penghematan ini berasal dari turunnya impor BBM solar.
Dengan kata lain, semakin kuat produksi sawit, semakin besar manfaat ekonomi.
Kemitraan Plasma PTPN IV
PTPN IV Regional III memiliki kemitraan plasma luas. Totalnya mencapai 56.500 hektare.
Kemitraan ini melibatkan sekitar 28.000 petani.
Program ini sudah berjalan sejak lama. Banyak petani sudah menjadi mitra aktif.
Sebagian besar kini mengikuti PSR. Mereka mengganti tanaman lama dengan bibit baru.
Dukungan Aspekpir
Program ini juga didukung Aspekpir. Organisasi ini membantu petani di lapangan.
Kerja sama ini mempercepat pelaksanaan PSR. Prosesnya menjadi lebih terarah.
“Kami didukung Aspekpir dalam pelaksanaan program ini,” kata Bambang.
Distribusi Bibit Unggul
Sejak 2019, PTPN IV juga menyalurkan bibit unggul. Jumlahnya mencapai 2,56 juta bibit.
Bibit ini diberikan kepada lebih dari 8.900 petani.
Bibit unggul memiliki produktivitas lebih tinggi. Selain itu, hasilnya lebih stabil.
Ini membantu petani meningkatkan hasil jangka panjang.
Pola Single Management
PTPN IV menggunakan sistem single management. Sistem ini bersifat terstandarisasi.
Semua proses dilakukan sesuai standar perusahaan.
Mulai dari penumbangan, penanaman, pemupukan, hingga perawatan.
Sistem ini membuat hasil lebih konsisten.
Selain itu, petani lebih mudah mengikuti standar teknis.
Kesimpulan
PTPN IV PalmCo optimistis terhadap masa depan sawit rakyat Riau.
Program peremajaan sawit rakyat Riau terus diperluas.
Produktivitas petani meningkat secara signifikan.
Dukungan terhadap B50 juga semakin kuat.
Dengan program ini, petani diharapkan lebih sejahtera. Industri sawit nasional juga semakin kompetitif.
